ANTAR GURU, PUISI, DAN PERASAAN YANG SALAH
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Ruteng, Nusa Tenggara Timur. Kota kecil yang biasanya damai dan diselimuti kabut pegunungan itu mendadak gempar karena sebuah kisah cinta yang tak seharusnya terjadi.
Namanya Yosep, guru Bahasa Indonesia yang baru dua tahun pindah ke SMA Negeri Manosawu. Ia pindah dari Kupang, berharap kehidupan yang lebih tenang setelah patah hati akibat tunangannya menikah dengan orang lain. Di Ruteng, ia menjadi guru idola. Tinggi, kulit sawo matang, rambut hitam acak-acakan yang selalu terlihat rapi tanpa perlu disisir, dan mata teduh yang bisa membuat siapa pun nyaman saat bicara dengannya.
Ia mengajar dengan semangat dan mampu membangkitkan minat siswa-siswi yang selama ini menganggap Bahasa Indonesia sebagai pelajaran membosankan. Tapi dari semua rekan kerjanya, satu yang paling menonjol dan sering menyita perhatiannya: Maria Oktaviani, guru Bahasa Inggris yang baru pindah dari Maumere.
Maria adalah sosok yang ramah, lembut, dan cerdas. Ia masih memiliki pacar, seorang arsitek muda yang bekerja di Ende. Tapi ia juga punya ketertarikan yang besar pada sastra. Tulisannya beberapa kali dimuat di majalah sekolah, bahkan pernah menang lomba guru menulis tingkat kabupaten. Ia cantik dengan cara yang tidak biasa — bukan karena make up atau gaya rambut, tapi karena cara berpikirnya yang dewasa dan menyentuh.
Awalnya, semua hanya karena satu tulisan.
Esai Maria yang berjudul “Jalan Pulang Tak Selalu Rumah” menarik perhatian Yosep. Ia memanggil Maria ke ruang guru untuk membahas tulisannya — dan sejak saat itu, pertemuan mereka menjadi rutin. Setiap minggu, mereka berdiskusi tentang puisi, sastra, hidup, dan luka masa lalu.
Maria mulai merasa nyaman, dan Yosep mulai merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar kekaguman. Ia mencoba menahan perasaannya, tapi seperti kabut Ruteng yang tak bisa ditepis, perasaan itu terus mendesak ke permukaan.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar